PM Thailand, Prayut Chan ocha, sumber foto: REUTERS/Erik De Castro
Glx QQ - Dalam beberapa pekan terakhir, demonstrasi secara rutin diselenggarakan oleh aktivis pro-demokrasi Thailand yang dipimpin oleh para pemuda. Mereka menuntut Perdana Menteri (PM) Prayut Chan ocha mundur dari jabatannya karena dianggap gagal menangani wabah virus Corona.
PM Prayut dan lima kabinetnya juga dituduh korupsi. Parlemen Thailand usai melakukan debat, Sabtu (4/9) menggelar mosi tidak percaya. Pihak oposisi berusaha untuk menggulingkan Prayut dari kekuasaan.
Rumor koalisi antara pemerintah dan partai oposisi
https://twitter.com/rapplerdotcom/status/1434036679073992708?s=20
Sebelum mosi tidak percaya di parlemen, ada desas-desus bahwa partai penguasa dan oposisi Thailand telah membentuk koalisi. Sekretaris Jenderal Partai Palang Pracharath, Thammanat Prompao, yang mendukung Prayuth, dikabarkan setuju dengan partai oposisi untuk menggulingkan Perdana Menteri.
Dilansir dari Associated Press, belum ada konfirmasi pasti bahwa rumor tersebut benar adanya.
Tetapi di sisi lain, ada tuduhan terhadap Prayut bahwa dia telah membayar sejumlah besar uang kepada anggota parlemen untuk mengimbangi pemungutan suara dalam mosi tidak percaya. Beberapa anggota parlemen datang ke kamar Prayut untuk melakukan kesepakatan.
Kabar tersebut dibantah keras oleh Prayut, yang memimpin Thailand sejak 2014 melalui kudeta militer. "Semua orang datang untuk menyambut saya. Karena saya hampir tidak bertemu mereka, mereka hanya datang untuk memberi saya dukungan. Saya tidak akan melakukan hal yang tidak masuk akal (membayar uang)," kata Prayut.
PM Thailand lolos dari mosi tidak percaya
https://twitter.com/ThaiEnquirer/status/1433995909319180290?s=20
Untuk menggulingkan perdana menteri Thailand, kelompok oposisi parlementer membutuhkan setidaknya 242 suara dari total 482 anggota. Namun dalam mosi tidak percaya yang dilakukan pada hari Sabtu, pendukung Prayut mendapat 264 suara sedangkan oposisi mendapat 208 suara.
Artinya, PM Thailand lolos dari mosi tidak percaya dan dia akan terus memimpin Negeri Gajah Putih.
Menurut ABC News, PM Prayut telah lolos dari dua mosi tidak percaya selama masa jabatannya sejak memenangkan pemilihan 2019, yang dinilai banyak lawan politik penuh dengan penipuan.
Namun, posisi PM Thailand dan pemerintahannya saat ini dipandang sebagai posisi yang rentan. Pasalnya, penanganan krisis COVID-19 yang dinilai buruk telah memberikan momentum kepada para aktivis pro demokrasi untuk kembali turun ke jalan menuntut Prayut mundur dari jabatannya.
PM Prayut berterima kasih kepada parlemen karena mendukungnya
https://twitter.com/MayWongCNA/status/1434103614629298183?s=20
Baik PM Prayut Chan ocha dan lima menteri kabinetnya, semuanya berhasil lolos dari mosi tidak percaya. Artinya, sebagian besar anggota parlemen Thailand masih mempercayakan tugas kenegaraannya kepada orang-orang ini.
Menurut Bangkok Post, Prayut senang telah lolos dari mosi tidak percaya. Dia bilang dia akan terus bekerja. Selain itu, mantan jenderal militer itu juga berterima kasih kepada anggota parlemen atas dukungannya.
Mosi tidak percaya yang ditujukan kepada Prayut dan lima menteri kabinetnya datang setelah anggota parlemen mengadakan debat selama empat hari. Perdebatan terfokus pada isu salah urus pengadaan dan distribusi vaksin oleh pemerintah.
Pemerintah Thailand saat ini dinilai oleh para aktivis pro-demokrasi telah gagal. Para aktivis, pada hari yang sama, masih menggelar aksi unjuk rasa menuntut PM mundur dari jabatannya.
Aparat keamanan Thailand masih memasang barikade seperti menggunakan pagar besi, kawat berduri atau bahkan kontainer di beberapa jalan, sehingga para demonstran tidak bisa melewati jalur yang dimaksud.

0 Comments